468x60 Ads

Ahli gigi surabaya

Gigi-gigi ‘Laa ilaaha illallah’


Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’, yang juga sering disebut ‘kalimat thoyyibah’ merupakan kalimat yang petama kali harus diucapkan oleh orang yang masuk Islam atau menyatakan keislamannya, dalam rangkaian kalimat syahadat:
Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Ibarat orang memasuki suatu bangunan, kalimat ini bagi orang yang masuk Islam merupakan pintu pertama yang dilewatinya. Orang tidak akan disebut sebagai orang muslim jika belum mengucapkan kalimat ini. Namun, apakah setelah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’, ia sudah pasti dinilai sebagai orang muslim yang djamin masuk surga?
Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illalllah, maka ia pasti masuk surga “.
Benar, dari hadits tersebut dapat dipahami orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dijamin masuk surga. Dengan kata lain, kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ adalah tiket untuk masuk surga. Ia adalah kunci untuk membuka pintu jannah. .
Akan tetapi, ada hal yang perlu kita ketahui mengenai ‘Laa ilaaha illallah’ sebagai kunci surga..
Wahhab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah ‘Laa ilaaha illallah’ itu kunci jannah (surga)?”, beliau menjawab, “Ya, tetapi tidak ada kunci kecuali pasti ada gigi-giginya, maka jika engkau datang dengan kunci yang terdapat gigi-giginya, pintu itu pasti dibukakan untukmu, jika tidak, maka tidak dibukakan untukmu”
Maksud ucapan Wahhab bin Munabbih di atas adalah, sebagaimana kunci harus memiliki gigi-gigi untuk membuka pintu atau gembok, maka ‘Laa ilaaha illallah’ yang disebut sebagai kunci surga juga harus mempunyai ‘gigi-gigi’. Tanpa ‘gigi-gigi’ itu, kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ tidak bisa digunakan untuk membuka pintu jannah, meskipun diucapkan ribuan kali.
Lantas apa gigi-gigi ‘Laa ilaaha illallah’ tersebut?
Gigi-gigi ‘Laa ilaaha illallah’ adalah seluruh perkara yang menjadi konsekwensi pokok dari pengucapan ‘Laa ilaaha illallah’, baik berupa keyakinan, perkataan, maupun perbuatan. Jika satu saja di antara perkara-perkara itu yang ditinggalkan, maka pelakunya menjadi kafir –keluar Islam- menurut Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ para ulama’.
Sebagai contoh, berhukum kepada syari’at Islam saja, menyakini Muhammad Saw. sebagai penutup nabi dan rasul, serta meninggalkan penyembahan kepada selain Allah, termasuk konsekwensi pokok ‘Laa ilaaha illallah’. Sebab, menurut nash-nash yang qath’ie dan ijma’ ulama, orang yang enggan melakukan hal tersebut, maka ia menjadi kafir dan dijamin masuk neraka untuk selama-lamanya, meskipun ia masih mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’.
Demikian juga, tidak diragukan lagi bahwa orang yang berperang di pihak orang-orang kafir melawan kaum muslimin, mengganti hukum Allah, memperolok-olok ayat-ayat Allah, membunuh nabi, atau mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah tuhan, maka orang itu kafir murtad. Karena itu, meninggalkan hal-hal tersebut termasuk konsekwensi pokok dari pengucapan ‘Laa ilaaha illallah’.
Dengan demikian, merupakan hal yang sangat penting  jika kita mengkaji hal-hal yang menjadi konsekwensi pokok dari pengucapan ‘Laa ilaaha illallah’. Sebab, alangkah ruginya apabila kunci surga yang kita bawa saat menghadap Allah kelak tidak dilengkapi dengan gigi-gigi.

Tags:

0 komentar to this article "Gigi-gigi ‘Laa ilaaha illallah’"

Leave a comment