468x60 Ads

Ahli gigi surabaya

mengapa ahlussunnah Metode memahami Islam


Saat menafsirkan Al-Qur’an, seribu kepala bisa memunculkan seribu tafsir yang berbeda-beda. Tergantung kepentingan individu atau misi jama’ah mereka masing-masing. Dalam soal ayat-ayat jihad misalnya, sebagian Jama’ah Tabligh memaknainya sebagai perintah untuk dakwah khuruj, sebagaimana ciri khas mereka; kelompok lain memahaminya sebagai perintah untuk terjun di dunia perpolitikan (ala demokrasi) untuk memperjuangkan aspirasi Islam; kelompok lain mengartikannya sebagai perintah untuk memerangi kemiskinan karena ia adalah musuh masyarakat; golongan lain menafsirkannya menurut arti jihad secara bahasa, yakni bersungguh-sungguh, sehingga segala aktifitas yang menuntut kesungguhan adalah jihad syar’ie, walhasil orang yang bersungguh-sungguh dalam suatu bidang keagamaan berarti sudah menunaikan perintah jihad dan ia tidak perlu berperang.
Ada lagi yang mengatakan, jihad yang dimaksud hanya berlaku tatkala kaum muslimin diserang musuh; yang lain mengatakan, jihad tersebut baru wajib tatkala ada khalifah, sehingga tatkala tidak ada khalifah jihad juga tidak ada, yang ada ‘tholabun nusroh’ –menurut versi mereka-. Sebagian kelompok lain yang sering berbaju salafi menganggap, bahwa jihad baru syar’ie jika diizinkan penguasa (baca: thoghut) dan jihad-jihad yang diadakan berbagai  gerakan Islam ‘sempalan’ melawan orang-orang kafir adalah bid’ah.
Akhirnya banyak orang bingung. Fenomena inilah yang terjadi dalam menafsirkan seperti apakah Islam itu. Pernah beberapa orang Jerman datang ke sebuah ma’had untuk menanyakan Islam yang sebenarnya, sebab mereka bingung saat menyaksikan beraneka ragamnya wajah Islam di dunia ini. Di republik ini, kita melihat pengamalan Islam di kalangan NU berbeda dengan yang di Muhammadiyah.  Di ‘Salafi’, HT, syi’ah, kalangan ‘Tarbiyah’ akan lain pula.
Pada tulisan ini, tidak dibahas kelompok mana yang mengamalkan Islam yang sebenarnya. Tapi yang dibahas adalah Islam yang sebenarnya itu sendiri, sehingga bila kita sudah mengetahui hal tersebut, kita akan tahu siapakah yang berada di atas Islam hakiki, Islam yang sesungguhnya, dan siapa yang berada di atas Islam palsu.
Imam Ahmad mengatakan, “Ketahuilah kebenaran, kau akan tahu penyandangnya”.
Secara umum, perbedaan wajah Islam di kalangan kelompok-kelompok di atas bukan karena perbedaan pedoman yang menjadi rujukan mereka dalam beragama. Pedoman mereka semua tetap satu, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perbedaan tersebut lebih banyak karena beragamnya penafsiran mengenai pedoman yang satu tersebut. Karena itu perlu diketahui penafsiran manakah yang dijamin kebenarannya.
Manusia terdidik, saat akan menggunakan suatu produk, tentu akan memilih produk yang telah disahkan oleh quality control dan memiliki semacam ‘garansi’ atas barang yang dibelinya. Dalam dunia kedokteran, seorang dokter yang telah mengantongi izin praktik, dan memiliki ijazah, atau sertifikat pengakuan dari instansi yang berkompeten, adalah lebih dipercaya untuk menjalankan praktik diagnosis serta pengobatan.
 Demikian juga dalam memahami seperti apakah Islam itu. Orang yang berakal dan tidak dibutakan oleh fanatisme kepada kelompok  tertentu, pasti tidak akan memilih pemahaman tentang Islam dari golongan atau sosok tertentu yang belum terjamin kebenarannya. Tapi ia akan memilih pemahaman Islam yang dijamin benar. Pemahaman itulah yang oleh pembawa risalah Islam itu sendiri –yakni Rasulullah Muhammad Saw.-  dikatakan ‘Aku dan para shahabatku berada di atasnya’.
Pemahaman yang dianut Rasulullah Saw. dan para shahabat itulah Islam yang sebenarnya.
Para shahabat Nabi adalah orang-orang yang mengerti kapan, di mana, atas sebab apa Al-Qur’an diturunkan. Mereka juga menyaksikan langsung bagaimana kehidupan Rasulullah Saw. Karena itulah, wajar bila mereka –setelah Rasulullah sendiri- adalah orang-orang yang memiliki kompetisi dan kapabilitas untuk  menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah orang-orang yang dijamin baik oleh Allah dalam surat At-Taubah, ayat 100.
Paham inilah yang lazim disebut sebagai paham ahlus sunnah. Paham-paham lainnya yang bertentangan dengan yang dianut para shahabat Nabi adalah paham-paham ahlul bid’ah.
Golongan mana saja yang memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan paham shahabat Nabi adalah Ahlus sunnah meski tidak menamakan dirinya sebagai ahlussunnah. Sebaliknya, setiap orang dan kelompok yang paham Islamnya tidak sesuai dengan shahabat Nabi adalah ahlul bid’ah, meski menamakan kelompoknya sebagai ahlussunnah wal jama’ah atau berbaju ‘salafi’. Tidak ada keterikatan antara nama dengan hakekat.

Tags:

0 komentar to this article "mengapa ahlussunnah Metode memahami Islam"

Leave a comment