saya sangat terkesan dengan sebuah artikel yang saya baca di sebuah milis, ternyata dari makhluk tuhan yang selama ini kebanyakan dari kita tidak menyukai keberasaan nya dapat kita ambil pelajaran yang beharga dari hidup nya untuk dijadikan cermin dalam kehidupan kita,
”Enough Is Not Enough When We Can Get More.”
Mungkin
anda pernah mendengar ungkapan itu. Cukup itu tidaklah cukup, jika kita
bisa memperoleh lebih banyak lagi. Dalam konteks tidak cepat berpuas
diri, kalimat itu sungguh sangat memotivasi. Karenanya, ketika kita
berhasil meraih pencapaian hingga tahap tertentu, maka kita terus memacu
diri. Namun, dalam konteks pengendalian hawa nafsu, kita perlu
menggunakan sudut pandang yang berbeda sama sekali. Sebab, hawa nafsu
yang tidak mengenal batas membentuk kita menjadi pribadi serakah
(greedy), sehingga ’mengambil lebih banyak lagi’ menjadi dogma yang
mesti kita patuhi. Sampai-sampai, kita tidak bisa membedakan antara
semangat untuk terus mengeksplorasi kapasitas diri dengan keserakahan. Dipenghujung musim hujan, para nyamuk menggeliat bangun. Sehingga, pada masa-masa awal musim kemarau sudah mulai beterbangan
mahluk haus darah itu. Jika sudah begitu, ketenangan malam-malam kami
menjadi terusik. Kami sering dibuat tidak berdaya untuk menangkis
serangan-serangan udara layaknya pesawat tempur canggih yang menggempur
pemukiman penduduk yang tak berdaya. Hebatnya lagi, nyamuk jaman
sekarang sudah semakin canggih melakukan manuver sehingga jangan harap
bisa menepuknya ketika dia terbang. Bahkan, ketika dia menggigitpun
tingkat kewaspadaannya tetap tinggi. Jadi, saat kita menepuk, dia
cepat-cepat terbang lagi. Nyamuk lolos, malah paha kita yang terasa
pedas karena terkena pukulan sendiri. Tapi,
tentu Anda tahu bahwa ada ’saat dimana kita bisa menangkap’ nyamuk
dengan amat sangat mudah. Yaitu, ketika nyamuk sedang kekenyangan.
Ketika kenyang, nyamuk tidak bisa terbang. Boro-boro terbang, untuk
sekedar bergerak saja sudah sulit. Sehingga, kita bisa menepuknya dengan
teramat gampang. Setiap
kali saya mendapati nyamuk kekenyangan seperti itu saya selalu memiliki
dua perasaan yang bercampur baur. Pertama, perasaan puas, karena anda
tahulah apa yang saya lakukan kepada nyamuk yang telah menyakiti
anak-anak yang tengah tertidur pulas itu. Kedua perasaan miris. Miris?
Iya. Karena saya melihat sifat nyamuk itu didalam diri saya. Setelah
saya memikirkan dalam-dalam, ternyata bukan hanya nyamuk yang memiliki
sifat serakah, tetapi juga manusia. Bahkan, mungkin manusia lebih
serakah dari nyamuk. Nyamuk memang serakah. Tetapi, yang dia ambil hanya
sebatas memenuhi isi perutnya. Tetapi, keberhasilan manusia untuk
memenuhi seluruh rongga perutnya tidak akan pernah berhasil menghentikan
hasratnya untuk ’mengambil lebih banyak’
lagi. Sebab, selain memiliki rongga perut untuk menyimpan, manusia juga
memiliki bank, surat berharga, emas batangan, dan berbagai macam bentuk
penyimpanan lainnya. Karena kapasitas tempat penyimpanan itu nyaris
tidak terbatas, maka cocoklah dengan sifat rakus manusia yang tidak
kenal batas ini.Seandainya nyamuk itu tidak mengumbar nafsu serakahnya,
misalnya dengan menghisap darah secukupnya saja, mungkin dia akan tetap
bisa menyelamatkan
diri. Tetapi, keserakahan telah menjadikan dirinya terlampau bernafsu
untuk mengambil sebanyak-banyaknya sehingga perutnya kepenuhan. Dan
karenanya dia menjadi tidak berdaya. Kita sudah melihat begitu banyak
bukti bahwa manusia-manusia yang serakah seringkali pada akhirnya harus
berhadapan dengan hukum, dan bermuara dibalik jeruji penjara. Jika pun
mereka bisa meloloskan diri, mereka harus berpura-pura menjadi manusia
terhormat, padahal namanya terpampang dalam DPO alias daftar pencarian
orang dengan titel buronan. Sungguh
beruntung bagi sang nyamuk. Sebab, dia hanya berurusan dengan dunia.
Sedangkan manusia? Selain dunia, kita memiliki urusan dengan akhirat.
Jika nyamuk serakah mati, maka mati pulalah semua ’DOSA’ yang pernah
diperbuatnya. Namun, jika manusia mati, maka abadilah ’SEMUA AMAL
PERBUATANNYA’. Jika amal itu baik, maka kebaikan itu akan menjadi bekal
kehidupan sesudah
kematiannya. Namun, jika amal perbuatannya itu berupa keburukan; akan
tetap menjadi beban bagi kehidupan keduanya kelak. Padahal, hidup kelak
beda dengan hidup kini. Kini, uang bisa menjadi hakim pengganti hukum.
Namun nanti, uang tidak bernilai lagi. Tiba-tiba
saja saya merasa beruntung karena ’tidak memiliki kesempatan’ untuk
melampiaskan semua bentuk keserakahan itu. Saya bersyukur karenanya.
Sebab, seandainya saja saya mendapatkan kesempatan itu; mungkin saya
tidak akan mampu mengendalikan nafsu serakah ini. Tetapi, saya juga
merasa miris lagi. Karena, meski tidak seserakah itu; saya masih
memiliki bibit keserakahan dihati ini. Sehingga, kadang-kadang saya
begitu egoisnya sampai berani mengabaikan kepentingan orang lain. Hari
ini, saya belajar sesuatu dari sang nyamuk. Bahwa jikapun kita harus
mengambil, maka kita hanya berhak mengambil sesuai dengan hak kita.
Yaitu sejumlah kadar kepantasan tertentu. Jika kita mengambil melebihi
tingkat kepantasan itu, maka kita telah berubah menjadi mahluk yang
lebih rendah dari sang nyamuk. Sebab, keserakahan
nyamuk dibatasi oleh ukuran perutnya. Sedangkan keserakahan kita, hanya
dibatasi oleh kematian. Sifat serakah kita tidak mati sebelum kita
sendiri yang mati. Sementara dalam serakahnya itu, sang nyamuk mati
dalam seluruh kebaikan hidup. Sebab, ketika dia mati, dia datang
menghadap Tuhan. Lalu dia katakan; ”Tuhan, saya sudah menunaikan tugas
yang Engkau perintahkan.” Maka malaikat yang mendampinginya
berkata;”Tuhanku, sesungguhnya kami menyaksikan hambamu ini menunaikan
tugasnya seperti yang Engkau perintahkan” Lalu
batin saya bertanya kepada sang malaikat. ”Wahai Malaikat suci, apakah
sesungguhnya tugas yang Tuhan berikan kepada sang nyamuk itu?” Balas
malaikat:”Tuhan menugaskan nyamuk untuk memberikan pelajaran kepada umat
manusia, agar mereka menghindari sifat serakah dan berlebih-lebihan. ”
Lalu pagi itu, saya terbangun dengan beberapa ekor nyamuk yang gemuk.
Saya kesal karena dia telah mengambil darah dari tubuh ini. Namun, saya
juga kagum kepadanya. Karena demi menjalankan perintah Tuhan, dia rela untuk mengorbankan





