Begitu
gandrungnya dan tergila-gila seseorang dengan artis dan pemain bola yang cakep
sehingga foto dan poster mereka pun disimpan dan dipajang. Ketika bertemu
dengan mereka pun ingin dicium dan dipeluk. Inilah orang yang sudah
tergila-gila dengan idolanya. Sampai-sampai kecintaan ini pun mengalahkan
kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Walaupun adzan dikumandangkan, karena si
artis idolanya yang sedang tampil di TV, seruan kebaikan pun tidak dipedulikan.
Luar biasa gilanya.
Jika orang
mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.
Dari Anas
bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi SAW,
“Kapan
terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”
Beliau SAW berkata,
مَا أَعْدَدْتَ لَهَا
“Apa yang
telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang
tersebut menjawab,
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ
وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Aku
tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat,
banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah
dan Rasul-Nya.”
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau
begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam
riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,
فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ
– صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ
مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله
عليه وسلم – وَأَبَا
بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ
لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kami
tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan
bersama dengan orang yang engkau cintai).”
Anas pun
mengatakan,
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله
عليه وسلم – وَأَبَا
بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ
لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kalau
begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka,
walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Itulah
keutamaan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang
sholeh, pelaku kebaikan yang masih hidup atau pun yang telah mati. Namun,
kecintaan ini dilakukan dengan melakukan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi
setiap larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syari’at Islam. (Lihat
Syarh Muslim, 8/483) Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai, diidolakan
dan diagungkan adalah para artis dan pemain bola? Lihatlah sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan
orang yang engkau cintai”. Ditegaskan pula dalam riwayat Thobroni dalam
Mu’jamnya, dari ‘Aisyah secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam),
لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم
الْقِيَامَة
“Tidaklah
seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka
pada hari kiamat nanti.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 11/164, Asy Syamilah). Siapa yang mau dikumpulkan di
hari kiamat bersama dengan orang-orang pelaku maksiat atau orang-orang kafir ?
Jadikanlah
idolamu dan tambatan cintamu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Abu Bakr, Umar, Utsman, para sahabat lainnya, dan orang sholeh bukan para
artis, pemain bola dan pelaku maksiat lainnya.
Realisasikan
cintamu dengan mengikuti jejak mereka (orang-orang sholeh) dalam setiap
perkataan dan perbuatan. Baca artikel lainnya berikut ini.
Semoga Allah
Ta’ala mengumpulkan kita bersama para Nabi, shidiqin, syuhada dan orang-orang
sholeh.
Alhamdulillahilladzi
bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa
‘ala alihi wa shohbihi wa sallam






