468x60 Ads

Ahli gigi surabaya

Hompimpa

Hom pim pa Alaium Gambreng !!
Familiar ? Ah kebangetan kalau dulu semasa kecil ngga pernah ber-hompimpa
Hompimpa atau hompimpah adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang
dilakukan oleh minimal tiga peserta. Secara bersama-sama, peserta membentuk lingkaran dan saling menjulurkan tangannya ke depan sambil mengucapkan kata hom-pim-pa. Ketika mengucapkan suku kata terakhir (pa), masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas.
Pemenang adalah peserta yang memperlihatkan
telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suit. Atau bisa juga terjadi sebaliknya tergantung kesepakatan sebelum ber-hompimpa. Hompimpa ini bisa diterapkan di berbagai permainan tradisional, tapi biasanya sih kalau hendak main kucing-kucingan (ucing sumput : sunda).
Di beberapa daerah kalimat ini sudah di modifikasi menjadi, "Hom Pim Pa Alaium Gambreng, Mak Ipah Pake Baju Rombeng !!"
Permainan tradisional untuk menentukan pemenang dengan menggunakan telapak tangan ini mempunyai makna yang cukup dalam. Kalimat, "Hom Pim Pa Allaaium Gambreng !" mempunyai arti "Dari Tuhan kembali ke Tuhan, Mari kita Bermain !" yang diambil dari bahasa Sanskerta.
Menandakan usia Hompimpa ini sudah sangat tua karena menggunakan serapan dari bahasa kuno.
Tapi rasanya ngga bakal bertahan lama. Anak-anak kecil sekarang lebih doyan ber-hompimpa dengan tablet & powerbank daripada bermain sama teman-teman manusianya.
Hom Pim Pa adalah permainan sederhana yang sarat dengan makna musyarawarah serta sikap menerima kesepakatan dan kebersamaan serta menjunjung tinggi sportifitas. Yang menjadi "kucing" tidak pernah protes, selalu nrimo dan legowo. Karena tahu itu adalah hasil "berembuk" bareng-bareng & tentu saja dia ngga bakalan jd kucing selamanya.
Sedari kecil tanpa disadari kita telah dididik untuk selalu bermusyawarah ketika mengambil suatu keputusan dan belajar berbesar hati.
Masa kecil kita ceria kan ? Kita harus kasihan sama para wakil rakyat lho, di usia sedewasa itu masih suka gontok-gontokan, seharusnya bisa bermufakat dengan kepala dingin. Mungkin masa kecilnya kurang bahagia ngga pernah ber-hompimpa
MK

Tags:

0 komentar to this article "Hompimpa"

Leave a comment